APA YANG DI AJARKAN AYAH KAYA DAN TIDAK DI AJARKAN OLEH ORANG KELAS BAWAH DAN MENENGAH KEPADA ANAKNYA
Pada
tahun 1985, Robert T. Kiyosaki dan Kim, istrinya, tidak mempunyai
tempat tinggal. Mereka tak punya pekerjaan dan hanya punya sedikit
sisa tabungan. Kartu kredit mereka sudah melampaui batas pengambilan,
dan mereka hidup di dalam sebuah Toyota cokelat usang dengan kursi reclining
yang berfungsi sebagai tempat tidur. Kadang-kadang mereka melakukan
pekerjaan serabutan dan mendapat beberapa dolar di sana sini. Pada
saat itu mereka diliputi keraguan yang dalam. Gagasan sebuah
pekerjaan yang aman dan menjamin dengan slip gaji bulanan terasa
sangat menggoda. Tapi karena keamanan kerja bukanlah yang mereka
cari, mereka terus berjuang. Hidup dari hari ke hari, di tepi jurang
kehancuran finansial.
Tahun
itu, 1985, adalah tahun terburuk dalam hidup mereka, sekaligus yang
terpanjang. Siapa pun yang mengatakan bahwa uang tidak penting sudah
jelas tak pernah merasakan tidak punya uang dalam waktu lama. Mereka
tahu, mereka selalu bisa mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi yang
aman dan menjamin. Mereka sama-sama lulusan perguruan tinggi dengan
ketrampilan bekerja yang bagus dan etos kerja yang kuat. Tapi mereka
tidak mencari keamanan pekerjaan. Mereka mencari kebebasan finansial.
Pada
tahun 1989 mereka sudah menjadi jutawan. Meskipun tampak berhasil
secara finansial di mata orang-orang, saat itu mereka tetap belum
mencapai impian mereka. Mereka belum meraih kebebasan finansial yang
sejati. Masih diperlukan waktu sampai tahun 1994. Saat itulah mereka
sudah tidak perlu lagi bekerja seumur hidup mereka. Mereka berdua
sudah memperoleh kebebasan finansial. Robert berumur 47, Kim 37.
Sering sekali kita mendengar orang berkata, “Dibutuhkan uang untuk menghasilkan uang.”
Robert
tidak sependapat. Dari kondisi tuna wisma di tahun 1985 hingga
menjadi jutawan di tahun 1989 dan kemudian mencapai kebebasan
finansial di tahun 1994, mereka tidak membutuhkan uang. Mereka tidak
mempunyai uang ketika memulainya, bahkan mereka memiliki utang.
Juga
tidak dibutuhkan pendidikan formal yang tinggi. Robert punya ijazah
perguruan tinggi, dan sejujurnya ia mengatakan bahwa mencapai
kebebasan finansial tidak ada hubungannya dengan apa yang dipelajari
di perguruan tinggi. Banyak orang sukses meninggalkan bangku sekolah
tanpa memperoleh ijazah perguruan tinggi. Orang-orang seperti Thomas
Edison, pendiri General Electric; Henry Ford, pendiri Ford Motor Co.;
Bill Gates, pendiri Microsoft; Ted Turner, pendiri CNN; Michael
Dell, pendiri Dell Computers; Steve Jobs, pendiri Apple Computer; dan
Ralp Lauren, pendiri Polo. Pendidikan perguruan tinggi penting untuk
profesi tradisional, tapi tidak bagi cara orang-orang ini mendapatkan
kekayaan besar. Mereka mengembangkan bisnis mereka sendiri yang
berhasil. Dan itulah yang dulu diupayakan Robert dan Kim dengan susah
payah.
Jadi, apa yang dibutuhkan?
Mind Your Business with Financial Intelligence
Apakah
Anda selama ini bekerja keras dan membuat orang lain kaya? Sejak
kecil kebanyakan orang diprogram untuk mengurus bisnis orang lain dan
membuat orang lain kaya. Hal ini diawali tanpa sadar dengan
kata-kata nasihat sebagai berikut:
-
“Kau
harus bersekolah dan mendapat nilai bagus supaya bisa mempunyai
pekerjaan yang aman dan menjamin dengan gaji tinggi serta tunjangan
yang bagus.”
-
“Kau
harus bekerja keras supaya bisa membeli rumah impianmu, karena
rumahmu adalah aset dan investasimu yang paling berharga.”
-
“Hipotek menguntungkan kita karena pemerintah memberikan pemotongan pajak untuk pembayaran bunganya.”
-
“Beli sekarang, bayar belakangan,” atau “Uang muka kecil, angsuran bulanan ringan,” atau “Silakan masuk dan menabung.”
Orang yang begitu saja mengikuti kata-kata nasihat itu sering menjadi:
-
Pegawai, membuat atasan dan pemilik perusahaan kaya.
-
Debitor, membuat bank dan kreditor kaya.
-
Pembayar pajak, membuat pemerintah kaya.
-
Konsumen, membuat banyak bisnis lain kaya.
Bukannya
mencari jalur cepat finansial mereka sendiri, mereka membantu orang
lain menemukan jalur cepat finansial mereka. Bukannya mengurus bisnis
mereka sendiri, mereka bekerja keras seumur hidup mengurus bisnis
orang lain.
CASHFLOW Quadrant
Menurut
Robert Kiyosaki dalam bukunya “CASHFLOW Quadrant”, ada empat kuadran
yang mungkin menjadi sumber penghasilan seseorang.
Diagram ini adalah CASHFLOW Quadrant.
Huruf dalam masing-masing kuadran mewakili:
E untuk employee (pegawai)
S untuk self-employed (pekerja lepas)
B untuk business owner (pemilik usaha)
I untuk investor (penanam modal)
|
|
CASHFLOW Quadrant
mewakili berbagai metode yang berlainan untuk mendapatkan uang atau
penghasilan. Sebagai contoh, seorang “E” mendapat uang dengan bekerja
untuk orang lain atau perusahaan. Orang-orang “S” mendapat uang dengan
bekerja untuk diri sendiri. Seorang “B” memiliki usaha yang
menghasilkan uang, dan “I” mendapatkan uangnya dari berbagai
investasi mereka – dengan kata lain, uang menghasilkan uang yang
lebih banyak.
Seorang
“E” (pegawai) bisa merupakan presiden direktur perusahaan atau
tukang sapu perusahaan. Yang terpenting bukanlah apa yang mereka
lakukan, tapi perjanjian mengikat yang mereka miliki dengan orang
atau organisasi yang mempekerjakan mereka.
Dalam
kelompok “S” (pekerja lepas) kita menemukan “profesional”
berpendidikan tinggi yang menghabiskan waktu bertahun-tahun di bangku
sekolah, seperti misalnya dokter, pengacara, dan akuntan. Juga dalam
kelompok ini terdapat orang-orang yang mengambil jalur pendidikan di
luar, atau di samping, aliran tradisional. Kelompok ini meliputi
wiraniaga dan pemilik bisnis kecil seperti pemilik toko eceran,
pemilik restoran, kontraktor, konsultan, ahli terapi, agen perjalanan,
montir mobil, tukang ledeng, tukang kayu, pengkhotbah, tukang listrik,
penata rambut, dan artis.
Seorang
“B” nyaris merupakan lawan dari “S.” Mereka senang mengitari diri
mereka dengan orang-orang pandai dari keempat kategori. Tidak seperti
“S” yang tak suka mendelegasikan pekerjaan (karena menganggap tidak
ada yang bisa melakukannya dengan lebih baik), seorang “B” sejati
suka mendelegasikan pekerjaan.
Perbedaan utama antara “S” dan “B” adalah, seorang “S” memiliki sebuah pekerjaan sedangkan seorang “B” memiliki sebuah sistem
dan kemudian menyewa orang-orang yang berkompeten untuk menjalankan
sistem itu. Atau dengan cara lain bisa dikatakan, dalam banyak kasus
“S” adalah sistemnya. Itu sebabnya mereka tidak bisa pergi
meninggalkan bisnisnya untuk waktu yang lama.
Sebaliknya,
mereka yang merupakan “B” sejati bisa meninggalkan usaha mereka
selama satu tahun atau lebih, dan pada saat kembali menemukan bisnis
mereka lebih menguntungkan serta berjalan lebih baik dibanding ketika
mereka tinggalkan. Dalam bisnis jenis “S” murni, jika sang “S” pergi
selama satu tahun atau lebih, kemungkinan besar takkan ada bisnis
yang tersisa ketika mereka kembali.
Pemilik
bisnis “B” bisa berlibur selamanya karena mereka memiliki sebuah
sistem, bukan sebuah pekerjaan. Jika “B” sedang berlibur, uangnya
masih mengalir masuk. Sangat banyak orang yang bisa membuat burger
lebih enak dari McDonald’s, tapi hanya McDonald’s yang mempunyai
sistem yang telah menyajikan miliaran burger. Bill Gates dari
Microsoft tidak membuat produk hebat. Ia membeli produk orang lain
dan membangun sistem global yang canggih di sekitarnya.
“I”
(investor) membuat uang dengan uang. Mereka tak perlu bekerja karena
uang mereka bekerja untuk mereka. Kuadran “I” adalah arena bermain
golongan kaya. Di kuadran manapun orang menghasilkan uang, jika
berharap suatu hari akan kaya, mereka pada akhirnya harus memasuki
kuadran “I”. Di dalam kuadran “I” inilah uang diubah menjadi
kekayaan.
Itulah CASHFLOW Quadrant,
yang sebenarnya hanya memaparkan perbedaan tentang cara memproleh
penghasilan, entah itu sebagai “E” (pegawai), “S” (pekerja lepas),
“B” (pemilik usaha), atau “I” (penanam modal).
Perbedaan pokok keempat kuadran itu terangkum di bawah ini:
E : Anda adalah pegawai yang bekerja untuk orang lain atau perusahaan.
S : Anda memiliki pekerjaan dan Anda terikat dengan pekerjaan itu.
B : Anda memiliki sistem dan orang lain bekerja untuk Anda.
I : Uang bekerja untuk Anda.
MEMILIH KUADRAN ANDA
Sebagian besar dari kita pernah mendengar bahwa rahasia memperoleh kekayaan besar adalah:
-
OPT – Other People’s Time (Waktu Orang Lain).
-
OPM – Other People’s Money (Uang Orang Lain).
OPT dan OPM ditemukan di sisi kanan Quadrant. Kebanyakan orang yang bekerja di sisi kiri Quadrant adalah OP (Other People) yang waktu dan uangnya dipergunakan oleh mereka yang berada di sisi kanan Quadrant. Di sisi kiri, para “E” dan “S” mungkin memiliki keamanan pekerjaan. Tapi, hanya dengan menjadi “B” atau “I” di sisi kanan Quadrant-lah Anda akan meraih kemanan dan kemudian kebebasan finansial.
Dengan
memilih bisnis jenis “B”, bukannya bisnis jenis “S”, Anda akan
memperoleh keuntungan jangka panjang menggunakan “waktu orang lain”.
Salah satu kelemahan menjadi “S” yang berhasil adalah: keberhasilan
itu berarti harus bekerja lebih keras. Dengan kata lain, pekerjaan
yang bagus menghasilkan kerja yang lebih keras dan jam kerja yang
lebih panjang.
Dalam merancang bisnis di sisi kanan Quadrant,
sukses berarti meningkatkan sistem dan melibatkan lebih banyak
orang. Dengan kata lain, kita bekerja lebih sedikit, menghasilkan
uang lebih banyak, dan menikmati lebih banyak waktu luang.
Di seluruh Quadrant dibutuhkan kecerdasan finansial. Jika ingin beroperasi di sisi kanan Quadrant, yaitu sisi “B” dan “I”, Anda harus lebih pandai daripada jika memilih diam di sisi kiri Quadrant sebagai “E” dan “S”. Untuk menjadi “B” atau “I”, Anda harus bisa mengendalikan ke arah mana cash flow Anda mengalir.
KEKAYAAN DAN CASH FLOW
Robert
Kiyosaki mendefinisikan kekayaan sebagai: “Jumlah hari di mana Anda
bisa bertahan tanpa bekerja secara fisik (atau tanpa siapa pun dalam
keluarga Anda bekerja secara fisik) dan tetap mempertahankan tingkat
kehidupan Anda.”
Sebagai
contoh: Jika pengeluaran Anda adalah Rp. 1.000.000,- per bulan, dan
jika Anda memiliki tabungan sebesar Rp. 3.000.000,- maka kekayaan
Anda adalah sekitar 3 bulan atau 90 hari. Kekayaan diukur dalam
satuan waktu, bukan uang.
Jadi,
yang penting bukanlah terutama tentang berapa banyak uang yang Anda
hasilkan, tapi lebih mengenai berapa banyak uang yang Anda simpan,
seberapa keras uang itu bekerja untuk Anda, dan berapa banyak
generasi yang bisa Anda hidupi dengan uang itu. Itulah yang disebut
kecerdasan finansial.
Beberapa
tahun lalu, sebuah artikel menuliskan bahwa sebagian besar orang
kaya menerima 70% penghasilan mereka dari investasi, atau dari
kuadran “I”, dan kurang dari 30%-nya dari gaji, atau dari kuadran
“E”. Dan jika bekerja sebagai “E”, maka kemungkinan besar mereka
adalah pegawai perusahaan mereka sendiri.
Bagi
kebanyakan orang lain, yaitu golongan miskin dan kelas menengah,
setidaknya 80% penghasilan mereka berasal dari gaji di kuadran “E”
atau “S” dan kurang dari 20% berasal dari investasi, atau dari
kuadran “I”.
Banyak
orang percaya bahwa hanya dengan menghasilkan lebih banyak uang,
masalah finansial mereka akan selesai. Tapi, dalam banyak kasus, hal
ini malah hanya menimbulkan masalah keuangan yang lebih besar. Alasan
utama orang mempunyai masalah keuangan adalah karena mereka tidak
pernah mendapat pelajaran tentang pengelolaan cash flow. Tanpa
latihan ini mereka akhirnya mendapat masalah keuangan, lalu mereka
bekerja lebih keras dengan keyakinan bahwa lebih banyak uang akan
memecahkan masalah mereka.
Jadi, jika Anda ingin mengurus bisnis Anda sendiri, langkah berikut sebagai CEO bisnis hidup Anda adalah mengendalikan cash flow
Anda. Jika Anda tidak melakukannya, menghasilkan lebih banyak uang
takkan membuat Anda bertambah kaya… bahkan, lebih banyak uang membuat
sebagian besar orang semakin miskin karena mereka sering pergi
membelanjakannya dan semakin dalam terbenam utang setiap kali
mendapat kenaikan gaji.
Seperti dinyatakan oleh Robert Kiyosaki dalam bukunya “Rich Dad Poor Dad,” ada tiga pola cash flow dasar. Satu untuk kelompok miskin, satu untuk kelompok kelas menengah, dan satu untuk kelompok kaya. Inilah pola cash flow untuk kelompok miskin:
Dan ini adalah pola cash flow kelas menengah
|
Pola cash flow
ini dianggap “normal” dan “inteligent” oleh masyarakat kita.
Karena orang-orang yang mempunyai pola ini kemungkinan memiliki
pekerjaan dengan bayaran tinggi, rumah bagus, mobil, dan kartu
kredit.
Inilah yang disebut “impian kelas pekerja.”
|
|
Mempunyai pola cash flow
kelas menengah memang normal di Era Industri, tapi hal itu bisa
berbahaya di Era Informasi. Seiring dengan berkembangnya kecerdasan
finansial, banyak orang yang mulai menyadari kesulitan finansial yang
sedang mereka alami, meskipun masyarakat menganggap mereka “normal
secara finansial.”
Ketika
pemahaman itu timbul, Anda harus mulai berpikir seperti orang kaya
dan bukannya seperti pekerja keras kelas menengah. Dengan mengubah
pola berpikir Anda seperti pola berpikir kelompok kaya, Anda akan
mulai mencari pola cash flow seperti ini:
Inilah pola pemikiran mental yang diajarkan oleh Robert Kiyosaki.
Ia
tidak menyarankan Anda menjadi kecanduan pekerjaan dengan
bayaran tinggi, tapi agar Anda mengembangkan pola pemikiran yang
hanya terpusat pada aset dan pemasukan dalam bentuk capital gain, deviden, pemasukan uang sewa, pemasukan residual bisnis, dan royalti atau passive income.
|
|
Bagi
Anda yang ingin berhasil di Era Informasi, semakin cepat mulai
mengembangkan kecerdasan finansial serta emosional untuk berpikir
dalam pola ini, semakin cepat Anda akan merasa lebih aman secara
finansial dan menemukan kebebasan finansial. Dalam dunia di mana
terdapat semakin sedikit keamanan pekerjaan, pola cash flow
ini terasa lebih masuk akal. Dan untuk mencapai pola ini Anda perlu
melihat dunia dari sisi “B” dan “I”, tidak hanya dari kuadran “E” dan
“S” saja.
Di
Era Informasi, gagasan kerja keras tidak mempunya arti yang sama
dengan Era Agraria dan Era Industri. Di Era Informasi, orang yang
bekerja fisik paling keras akan dibayar paling sedikit. Jadi,
ungkapan “pakai otak, jangan pakai otot” maksudnya bukan memakai otak
di kuadran “E” dan “S”. Yang dimaksud adalah memakai otak di kuadran
“B” dan “I”. Itulah pola berpikir Era Informasi, yang membuat
kecerdasan finansial dan emosional sangat penting saat ini seperti
halnya di masa depan.
Robert T.Kiyosaki
Source: http://krisztianemergencynurse.blogspot.com/2009/08/cashflow-quadrant-robert-t-kiyosaki.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar